Prolog : Perjalanan ini sudah saya lakoni beberapa waktu yang lalu namun baru saat ini saya bisa menceritakannya. Mudah-mudahan tidak ada yang terlewatkan dari perjalanan seru ini.
Here’s my story :
Banyak hal yang bisa dibayangkan ketika seorang sahabat mengajak saya untuk melakukan perjalanan akhir tahun ke Bangkok. Mulai dari peristiwa kudeta terhadap PM Thaksin yang membuat saya sempat untuk mengurungkan niat melancong ke sana karena khawatir akan dampak huru-hara, ketakutan terhadap orang-orang jahil yang dengan sengaja memasukkan “barang-barang haram” ke dalam tas (seperti pada film Bridget Jones’ diary 2), sampai pada bayangan pantai di film “ The Beach “ yang membuat saya tergila-gila pada “pantai-pantai ber gradasi hijau biru” (padahal waktu tinggal di Bali dulu, saya paling anti pergi ke pantai).
Syukurlah semua pikiran-pikiran jelek saya sirna ketika seorang sahabat yang baru saja menikah dengan orang Thai dan tinggal di Bangkok mengatakan bahwa Bangkok tidaklah seperti bayangan saya dan aman untuk pergi kesana.
Saya kemudian browsing internet untuk tempat-tempat menarik di Thailand dan sekitarnya. Kota Bangkok akan menarik bagi pelancong yang senang dengan genre budaya dengan banyaknya situs-situs temple di dalam kota Bangkok sendiri. Daerah Thailand bagian Utara juga tidak banyak yang bisa dieksplorasi kecuali pasar terapung terbesar, wisata gajah juga ladang-ladang pertanian yang cukup besar. Ada cerita menarik dari seorang kerabat yang dalam satu kesempatan berdinas studi banding tentang AIDS ke Negara Thailand. Ladang-ladang pertanian di daerah Thailand Utara ini banyak dikelola oleh para penderita AIDS, dengan tujuan agar mereka merasa tidak dikucilkan oleh masyarakat dan masih bisa produktif dengan segala kondisi mereka. Tidak itu saja. Banyak temple dan biara para bikshu kota Bangkok yang juga dijadikan tempat tinggal oleh para penderita AIDS. Hal ini yang membuat Thailand menjadi rujukan negara-negara di Asia dalam memfasilitasi para penderita AIDS.
Cukup dengan daerah daratan. Thailand Selatan adalah surganya pantai indah dan very beautiful scenery. Mereka punya phi-phi island yang terkenal itu (phi artinya pulau), mereka punya Phuket yang menjadi tujuan wisata bagi para pelancong Eropa. Dari beberapa informasi, kota Phuket sudahlah sangat ramai dan padat populasinya oleh pelancong tentunya, sehingga kami mengurungkan niat untuk pergi kesana. Kota Krabi kemudian menjadi tujuan kami, karena menurut beberapa situs blog yang ada, kota ini lebih direkomendasikan dibandingkan dengan Phuket yang sudah cukup padat. Jadilah Bangkok dan Krabi sebagai tujuan kami.
Niat awalnya sih kami akan melakukan perjalanan murah dengan memanfaatkan point reward GFF dari Garuda Indonesia, sehingga perjalanan Jakarta Bangkok pp bisa “gratis”. Kecewa no.1 adalah ketika perjalanan kembali ke Jakarta di awal Januari 2008 sudah full booked (padahal reservasi kami lakukan pada bulan September 2007, 3 bulan sebelumnya), sementara cuti kantor tidak bisa di booked lama-lama. Jadilah untuk perjalanan kembali ke Jakarta kami mencari penerbangan berbiaya murah (Low Cost Carriage).
Akhirnya kami akan terbang ke Bangkok dengan Garuda. Bangkok-Krabi-Bangkok dengan Thai Air Asia. Bangkok-Singapura dengan JetStar Air (yup..we can not miss going to Singapore even for only 1 day). Dan Singapura-Jakarta dengan ValuAir. Wahhh…low carriage semua nih kecuali Garuda, berarti saya harus siap-siap deg-degan dan gak bisa tidur sepanjang perjalanan (mungkin saya memang punya ketakutan untuk terbang dengan maskapai penerbangan murah. Bukan pada masalah jumlah uang yang harus dibayarkan, namun di bayangan saya, standard keselamatan yang diterapkan berbeda dengan penerbangan lain. Konotasi saya, penerbangan murah = perjalanan tidak nyaman). Pelajaran no. 1, penerbangan murah tidak berarti perjalanan akan tidak nyaman. Baca terus cerita saya di bawah
Ketika waktunya mengambil tiket di counter Garuda (Jl. Sudirman Jakarta), kecewa dan pelajaran nomor 2, bagi anda yang berniat menggunakan tier miles Garuda, bukan berarti gratis lho. Ternyata, kita masih akan dikenakan biaya administrasi yang cukup besar yaitu USD 100. Sementara untuk tiket dengan maskapai murah, semua biaya (termasuk airport tax, yang kalo di penerbangan domestic di Indonesia dikenakan biaya Rp. 30.000,- dari Cengkareng) sudah masuk dalam hitungan tariff tiket.
Kami mulai melakukan perjalanan tanggal 28 Oktober 2007 dengan menumpang GA 866, pukul 22.00 WIB. Airport tax Rp. 100.000,- dan fiscal Rp. 1.000.000,- membuat perjalanan ini sudah bukan perjalanan murah lagi. Dan harapan saya bahwa penerbangan ke Bangkok akan cukup nyaman dengan pesawat Airbus ternyata tidak terkabulkan karena pesawat Garuda ke Bangkok menggunakan pesawat Boeing 737-400 dengan 6 seats per row. Tapi sudahlah, yang penting adalah saya akan menghabiskan waktu akhir tahun di pantai Krabi !! dan rasa penasaran saya akan bandara baru di Bangkok, yang katanya paling besar di Asia Tenggara, akan segera terobati.
Bangkok sudah menunjukkan pukul 01.30 ketika saya tiba di Suvarnabhumi Airport. Terpesona juga melihat bentuk massa bangunan utama Suvarnabhumi Airport dengan permainan lampu warna birunya. Keren. Petunjuk dan pengarah bagi para pengguna fasilitas airport ini cukup jelas, sehingga bagi saya yang baru pertama kali berkunjung ke airport ini, tidak mengalami kesulitan arah. Dan sama halnya dengan waktu kedatangan international di airport negara-negara lain dimana rata-rata waktu kedatangan adalah pagi hari, counter imigrasi airport pagi itu sangat penuh oleh pelancong sehingga rasanya seperti mengantri masuk ke pertunjukan konser.
Suvarnabhumi Airport is a very spacious airport, sirkulasi kedatangan dan keberangkatan penumpang di beberapa area menyatu, namun dengan pengarah yang cukup memadai, saya akhirnya bisa menemukan jasa layanan airport taxi di luar. Counter taxi mudah didapat, karena calo-calo taxi tidak seramai di Cengkareng. Anda juga akan menemukan stand dengan free brochure tentang kota Bangkok saat mengantri taxi. Ada baiknya anda sudah mencatat alamat tujuan anda di secarik kertas agar petugas counter taxi bisa membacanya, karena aksen dan lafal bahasa inggris kita sangat susah dimengerti oleh penduduk Thailand kebanyakan. Ongkos taxi dibayar saat sudah tiba di tempat tujuan dan tidak perlu khawatir bila akan memasuki gerbang tol kita dimintai ongkos tol (seperti para sopir taxi di Jakarta yang gak mau rugi) karena akan dibayarkan dahulu oleh para sopir taxi ini. Cukup membuat kita merasa aman.
Mencari hotel di situs-situs internet Bangkok tidaklah susah. Jika anda berjiwa backpacker, daerah Khao San Road bisa menjadi pilihan. Namun, apabila anda bukan tipe pelancong yang tidak terlalu menyukai hiruk-pikuk layaknya daerah Poppies lane I dan Poppies Lane II di Kuta Bali, area sekitar pusat kota mungkin bisa menjadi pilihan. Saya memilih hotel yang dekat dengan Khao San Road dan pusat kota.
De Moc Hotel namanya. Beralamat di 78 Prajatipatai Road, Pra-Nakorn, Bangkok. Harga yang kami dapatkan untuk 2 orang, jika dikurskan dalam rupiah adalah Rp. 560.950 per malam per orang. Dari beberapa pilihan hotel yang ada, hotel inilah yang paling dikenali oleh sebagian kawan yang pernah melancong atau tinggal di Bangkok. Dan karena kali ini adalah kali pertama saya ke Bangkok, maka saya percaya saja dengan pendapat teman yang sudah pernah ke Bangkok sebelumnya. Seperti yang saya sebutkan di atas, jangan lupa untuk mencatat nama hotel dan alamat tujuan, jika perlu bila di situs internet alamat tujuan ada yang tertulis dalam tulisan Thailand, lebih baik diprint karena ada beberapa sopir taksi yang bahkan tulisan Latin pun tidak bisa dibaca dengan baik J. Hotel ini cukup nyaman dengan harga yang terjangkau dan berada tidak jauh dari pusat kota, sayang liftnya sanagat kecil untuk memuat dua orang wanita dengan koper yang besar-besar. Tidur hanya sekitar 4 jam karena tiba di hotel sudah menjelang pagi, membuat saya merasa enggan untuk beranjak. But I’m in Bangkok now and cannot miss a minute looking around Bangkok city.
Tujuan pertama kami adalah Chao Phraya River. Berdasarkan data yang saya peroleh, dalam beberapa peta kuno di Eropa sungai ini disebut sebagai Menam atau Mae Nam kata dalam bahasa Thailand untuk sungai ( Me atau Mae adalah “Ibu”, Nam adalah “Air” ). Nama Chao Phraya adalah bahasa Thailand dari Jendral atau Tuan. Sungai ini kemudian juga dikenal dengan nama River of Kings.
Karena kami memang tidak memiliki rencana dari awal akan berkeliling dimana saat berada di kota Bangkok, maka kami pun diarahkan oleh bellboy hotel untuk menuju ke National Art Gallery yang memang berada di tepian Chao Phraya River menggunakan Tuk-Tuk. Tuk-Tuk ini mirip dengan bajaj di Jakarta, hanya lebih terasa “lega” dan terbuka di sisi-sisinya. Harus pintar-pintar juga menawar harga untuk sekali perjalanan menggunakan Tuk-Tuk ini. Sampailah kami di dekat National Art Gallery yang pagi itu masih sepi dan tidak nampak keramaian turis untuk sebuah dermaga sungai yang terkenal di kota Bangkok. Petugas loket-pun tidak nampak di dalam ruang loket (membuat saya kemudian berpikir, “apakah jam 09.00am belum cukup siang untuk menyambut para wisatwan di kota ini?”). Akhirnya kami ditawarkan oleh calo di dermaga untuk menggunakan private long tail boat dengan harga 400 Baht untuk berkeliling sungai ini. Setelah perjalanan ke Bangkok kali ini, saya kemudian tau bahwa dermaga di National Art Gallery ini bukanlah dermaga umum untuk kapal pengangkut umum yang beroperasi setiap hari, namun lebih pada dermaga untuk kelompok-kelompok tour. Tidak mengherankan jika harga satu trip long tail boat cukup mahal dikenakan pada kami (untuk mengetahui jadwal dan dermaga yang beroperasi sepanjang sungai Chao Phraya silahkan ke alamat : http://bangkok.sawadee.com/canals.htm). Berkeliling Chao Phraya River rasanya seperti mengarungi sungai Musi, Palembang yang ketika melitas di atas jembatan Ampera, saya melihat ramainya kapal-kapal lalu-lalang di sungai ini, mulai dari perahu-perahu nelayan kecil sampai kapal yang cukup nyaman untuk para wisatawan. Ramai dan menyenangkan rasanya, sampai-sampai rasa capai-pun hilang.
Rumah-rumah di sepanjang sungai ini memiliki teras dan semacam dermaga kecil yang berhubungan langsung dengan sungai. Teras sebagian besar berupa panggung kayu yang dihiasi tanaman hias seolah-olah teras ini adalah penerima tamu yang datang menggunakan kapal atau perahu dari sungai. Unik, menurut saya. Kontras dengan sebagian besar daerah pemukiman di tepi sungai di Indonesia dimana bagian rumah yang berhadapan langsung dengan sungai cenderung menjadi area service dan akses menuju sungai kemudian ditutup oleh dinding-dinding ruang yang sebagian besar adalah dapur dan toilet.
Pemberhentian pertama adalah Royal Barges Museum. Di tempat inilah tersimpan kapan-kapal mewah milik kerajaan Thailand berikut dengan sejarah yang menyertainya. Hiasan badan kapal sangat detil didominasi oleh warna emas dan pecahan-pecahan kaca warna-warni. Kami pun mampir di parkiran dermaga museum ini untuk foto-foto, namun untuk dapat mengambil foto dari kapal para raja-raja Thailand ini, dikenakan biaya. Akhirnya kami hanya berkeliling saja di dalam museum ini.
Tidak banyak yang kemudian bisa dilihat di jalur Khlong Bangkok Noi ini, beberapa patung Budha yang cukup besar, mungkin merupakan bagian dari vihara di salah satu sudut kota Bangkok. Kemudian ada satu dermaga yang lebih terlihat tidak terawat dibanding sebuah persinggahan turis dan ternyata adalah tempat hidup beberapa ekor biawak besar. Di ujung jalur Khlong Bangkok Noi kami seperti berhenti di tambak ikan tanpa pemilik, karena begitu sebuah roti dilempar ke dalam sungai, muncul ikan berpuluh-puluh ekor ikan layaknya ikan lele dengan ukuran sebesar lengan tangan orang dewasa. Saya pun menikmati hal ini tapi tidak berani dekat-dekat ke mulut ikan, khawatir ikan ini akan menggigit jari-jari saya. Dari tempat ini, long tail boat kami kemudian memutar mengambil jalur kami sebelumnya, dan sesekali berhenti karena beberapa kapal dengan pasar terapungnya menghampiri kami. Tapi kapal pasar terapung ini tidak sebanyak di pusat pasar terapung Thailand.
Kembali ke dalam jalur utama Chao Phraya River, ternyata semakin siang jalur sungai ini semakin ramai. Sampai-sampai saya sempat khawatir apakah dengan perahu dan kapal yang hampir seluruhnya memacu kecepatan mesinnya dengan kecepatan tinggi tidak akan saling bertabrakan. Setiap dilewati oleh perahu / kapal dengan kecepatan tinggi, kapal yang kami tumpangi pun bergerak oleng ke kiri dan ke kanan tapi justru disinilah letak keasyikannya sambil menikmati percikan-percikan air sungai. Di jalur utama ini, cukup banyak tempat persembahyangan (Wat, dalam bahasa Thailand) yang bisa dinikmati. Dan karena kami meminta untuk berhenti di dermaga yang paling dekat dengan The Grand Palace, kami pun berhenti dan mengakhiri perjalanan di Tha Chang Pier ( Dermaga no. 9 ). Memasuki dermaga ini pun kami dikenakan biaya (saya lupa biayanya berapa, mungkin seperti biaya retribusi) karena kami tidak menggunakan kapal-kapal umum yang memang menjadi alat transportasi di sungai. Dermaga ini berupa panggung kayu yang menjorok ke arah sungai, di dalamnya tidak hanya disediakan tempat duduk untuk calon penumpang tapi dermaga ini lebih mirip food court di pasar tradisional (silahkan bayangkan sendiri bagaimana rupanya).
Na Phra Lan Road persis berada di depan dermaga ini yang akan menuntun kita menuju The Grand Palace. Sepanjang jalan dipenuhi oleh pedagang makanan dan sebagian besar mengandung daging babi. Tergiur juga untuk mencobanya, namun hari masih pagi dan lapar rasanya belum menghampiri saya. Berbagai jenis dan rupa makanan, minuman dan potongan-potongan buah segar yang dibuat menarik membuat para pejalan kaki yang sebagian besar adalah turis menghampiri tenda-tenda ini. Jadilah seperti melewati sebuah pasar tradisional.
Kemegahan The Grand Palace sudah terlihat ketika di kami sampai di sudut jalan. Benteng dan pagar tembok yang tinggi, pedestrian yang luas di luar tembok dengan tanaman-tanaman perdu tertata rapih cukup nyaman untuk dilewati para wisatawan. Namun saat itu Bangkok sangat sangat panas. Pelajaran nomor 2, jangan lupa membawa topi atau payung kecil jika akan mengunjungi The Grand Palace. Untunglah saya memakai rok di atas lutut sehingga kegerahan tidak terlalu hebat bagi saya. Pelajaran nomor 3, jangan pernah menggunakan bawahan di atas lulut jika ingin masuk ke The Grand Palace. Kami hari itu gagal masuk ke dalamnya karena ditegur petugas keamanan dan karena merasa “ribet” jika harus double pakai sarung yang disediakan (bayar pula untuk pinjam sarung saja), kami terpaksa keluar dengan tampang gagal dan culun.
So ? Where to go next? Thanks God it’s Saturday!! Pelajaran nomor 4, pastikan anda sempat berada di Bangkok pada hari Sabtu, karena ada yang kurang jika belum mengunjungi The Chatuchak Weekend Market. Chatuchak letaknya cukup jauh dari pusat kota dan menurut informasi dari peta yang saya dapat gratis di bandara, ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan untuk mencapainya. Tapi karena biaya taxi di Bangkok tidak mahal, kami pun menggunakan taxi untuk mencapai pasar rakyat yang terkenal ini. Karena menuju pintu gerbang utama siang itu sudah cukup padat, maka kami pun berhenti dan masuk pasar dari pintu yang lain.
Kita bisa mendapatkan apa saja di pasar ini. Semuanya, sebutkan saja ( you named it ) ada di sini. Karena pasar ini hanya dibuka seminggu sekali, bisa dibayangkan bagaimana ramainya dan penuhnya pengunjung pasar. Chatucak Market dibagi berdasarkan zona barang yang dijual. Jadi jika anda terdampar di bagian majalah bekas, sepanjang jalan anda hanya akan menemukan kios-kios majalah dan buku bekas. Barang-barang yang dijual pun ternyata sebagian ada yang sudah terpajang indah dengan harga yang cukup mahal di ITC Ambassador dan Plaza Semanggi (karena saya pernah membeli barang di kedua tempat ini yang ternyata juga dijual di Chatuchak).
Tipsnya adalah : (1) setiap anda tersesat di dalam gang yang berisi serentetan kios, pastikan anda mengetahui jalan keluar melalui jalur utama, dengan demikian anda tidak hanya berputar-putar melihat barang-barang tertentu dan itu-itu saja. (2) gunakan alas kaki dan pakaian yang cukup nyaman namun sebaiknya jangan pakaian lengan panjang karena akan sangat gerah terutama jika kota Bangkok sedang panas-panasnya. Jika khawatir kulit akan terbakar, gunakan sun block lotion yang cukup. (3) bawalah botol air mineral saat anda siap untuk masuk ke dalam gang-gang kios penjualan, karena jika tidak di area zona penjualan makanan dan minuman, anda akan kesulitan untuk menemukan sebotol air mineral. (4) ada beberapa barang yang hanya dijual di satu kios saja, sehingga anda (khususnya para wanita) perlu berpikir dua kali untuk tidak mencari kios lain dengan harapan harga bisa lebih murah.
Tempat ini menjadi surga bagi para pelancong dari segala usia, jenis kelamin, profesi, dan tingkat sosial. Harga barang pun bisa sangat bervariasi. Sama halnya dengan pasar Tanah Abang, Pasar Baru, dan ITC, harga di Chatuchak-pun wajib untuk ditawar. Setelah berkeliling dan sempat mencoba makan siang di pasar ini dengan menu ayam pedas, oleh-oleh untuk kerabat pun sudah saya dapatkan sehingga saya tidak perlu repot untuk daftar pesanan keluarga.
Mencari taxi untuk kembali ke hotel sangatlah susah dan mengherankan. Saya tidak habis pikir, kenapa taxi-taxi yang kosong tidak mau mengangkat penumpang yang cukup banyak dan menawarkan diri untuk menumpangi taxi mereka. Beberapa kali kami memberhentikan taxi, berkali-kali itu juga kami harus kecewa. Apakah karena para sopir ini menghindari macet ? tapi toh akan kami bayar. Saya kemudian menyadari bahwa mungkin kartu alamat hotel yang menggunakan huruf Latin tidak bisa dimengerti betul oleh para sopir ini, sehingga mereka memilih untuk menolak mengangkut kami. Akhirnya kami mendapatkan sopir taxi yang bersedia mengangkut kami, tapi beliau sempat menelepon temannya lho, kelihatannya untuk menanyakan alamat hotel kami.
Lelah dengan Chatuchak Market, kami pun beristirahat sejenak di hotel untuk siap-siap melancongi the famous Khaosan Road pada malam hari nanti.
# to be continued … #