Feeds:
Posts
Comments

Sebagai orang Toraja asli, ada keinginan dari diri saya pribadi untuk menceritakan semua hal tentang negeri nenek moyang saya ini. Mulai dari keindahan gunung batunya, sawah yang terhampas luas, keindahan rumah adat kami “Tongkonan”, kehidupan sehari-hari, upacara kematian “Rambu Solo’”(yang terkenal itu) dan banyak sekali hal menarik lainnya yang mungkin belum banyak diketahui orang. Oleh karenanya, saya mencoba untuk mengumpulkan segala hal yang berhubungan dengan tanah kelahiran saya ini di bagian Negeriku Tana Toraja (klik di sini).

Yang pernah saya ketahui, dulu (sekitar tahun 1980-an), Tana Toraja adalah tujuan wisata kedua setelah Bali. Namun mungkin karena banyak faktor, peminat wisata/wisatawan yang berkunjung ke Toraja saat ini tidaklah terlalu banyak. Mungkin juga karena jarak tempuh dari Makassar (ibukota Sulawesi Selatan) ke Tana Toraja memakan waktu sekitar 8 jam melalui darat (tapi menurut saya, waktu tersebut akan terbayarkan jika sudah menginjakkan kaki di Toraja).

Sudah banyak program dari pemerintah setempat untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Toraja. Dan saya berharap program-program tersebut semakin hari semakin mengajak para wisatawan untuk berkunjung ke Toraja. Sudah banyak pula website-website di dunia maya yang menceritakan mengenai segala hal tentang Tana Toraja. Saya pribadi berharap bahwa tulisan-tulisan yang saya kumpulkan dari berbagai-bagai sumber ini ( lihat Negeriku Tana Toraja) akan menjadi salah satu bagian kecil dari upaya pelestarian budaya Tana Toraja tersebut.

 

Seorang kawan yang sudah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, suatu waktu bertanya pada saya mengenai rekomendasi hotel di Bali. Sudah banyak yang berubah sejak ia terakhir kali ke Bali. Menurutnya, waktu itu Ubud dan Nusa Dua belum setenar sekarang (bisa anda bayangkan, tahun berapa kawan saya ini menginjakkan kakinya di Bali). Oleh karena itu, dalam “cuap-cuap” kali ini akan saya berikan sedikit gambaran untuk anda yang baru kali ini berkunjung ke Bali, atau sudah begitu lama tidak berkunjung ke Bali sehingga sudah lupa apa saja yang bisa ditawarkan Bali untuk anda.

Bali memang sangat cepat berkembang, terutama untuk industri pariwisatanya. Tinggal di Bali selama 3,5 tahun rasanya belum cukup untuk saya bisa melakukan eksplorasi di seluruh pulau ini. Tidak bisa juga menuliskan tentang Bali hanya dalam satu kesempatan ini saja karena begitu banyak yang bisa diceritakan. Setiap tahunnya saat saya kembali ke Bali untuk (kali ini) berlibur (dan bukan bekerja), setiap kali itu pula banyak tempat baru yang bisa saya kunjungi.

Bali menyediakan semua tempat untuk memenuhi kebutuhan liburan anda. Maksud saya adalah jika anda berkunjung ke Bali, anda harus mengetahui dahulu beberapa hal seperti untuk apa anda ke Bali, dengan siapa anda ke Bali, rekreasi seperti apa yang akan atau ingin anda nikmati, suasana seperti apa yang anda inginkan, seberapa banyak waktu yang anda punya di Bali nanti, karena jangan sampai anda ke Bali dan tidak menikmati liburan anda, hanya karena salah memilih lokasi hotel, misalnya.

Anda yang baru pertama kali berkunjung Bali, tidak disarankan untuk mencari tempat wisata yang “tidak standard”, kunjungilah “tempat-tempat yang standard” dahulu. Maksud saya dengan tempat standard ini adalah : Pantai Kuta, Jalan Legian, Pantai Dreamland, GWK, Pura Uluwatu, Watersport di Nusa Dua, Tanah Lot, Pasar Sukawati, Bebek Bengil di Ubud, Bedugul, Kintamani dengan gunung dan danau Baturnya.

Untuk kawan saya ini, ia memfokuskan agar hotel tempat tinggalnya nanti berada di sekitaran Seminyak dan Legian. Pertanyaannya ke saya adalah, apa perbedaan antara Seminyak dan Legian.

Deskripsi saya,untuk bedanya Seminyak dan Legian :

“Legian itu lebih ke shopping area, toko-toko gitu (semua brand surfing industry ada di sini, termasuk Surfer Girl, Rip Curl, Billabong, dll), penuh dengan hiruk pikuk orang belanja dan beberapa tempat makan, ada area monumen Bom Bali 1 (yang pada malam hari sangat penuh dengan turis-banyaknya sih turis Indonesia yang berfoto-foto ria), ada Bounty Ship sama Embargo tempat orang suka clubbing. Legian ini jalan satu arah menuju pantai Kuta, jadi agak ramai and you don’t want to stay there, too crowded. Di belakang Jalan Legian ada yang namanya Poppies Lane 1 dan Poppies Lane 2, suasananya hip, banyak penginapan (kalau bakal banyak di luar hotel dan hotel cuman buat tempaat tidur doang, mungkin penginapan di daerah ini juga bisa dijadikan alternated, tapi tidak jika anak kecil ikut serta dalam rombongan), jalanan sempit 1 arah, penuh dengan jualan DVD, perhiasan, tapi lebih ke surga para backpackers dan lebih crowded lagi dibanding Legian. Dari Jalan Legian, nanti biasanya orang mengarah ke KUTA SQUARE, PANTAI KUTA dimana ada Warung Made, Hard Rock Hotel dan Hotel Mercure persis sebrang-sebarangan ama pantai Kuta (ini bisa jadi pilihan untuk tempat tinggal) dan juga DISCOVERY MALL.

Di sekitar Discovery Mall (Jl. Kartika Chandra) banyak banget hotel, tons of them. Di Jalan Kartika Chandra, selain Discovery Mall, ada MUSRO, ada Hotel Discovery (ini bagus juga nih), Hotel The Villas, Hotel Ramayana (bagus juga nih), Hotel Balirani, Waterboom, dll. Tapi, menurut gue, daerah ini cocok untuk yang bawa keluarga (anak-anak kecil dan remaja yang masih dalam pengawasan orang tua…hehehe…feel-nya ga dapat kalau untuk usia 25-45an…hehehe, tapi kalau cuman buat tempat hotel doang mah gpp kali…). Ada juga hotel The Oasis-Bakungsari, hotelnya gak kelihatan dari jalan raya, agak masuk gang yang cukup sempit yang bisa membuat lo bertanya-tanya hotel macam apakah ini dan bagaimana lo bisa putar balik mobil lo di dalam sana. Tapi, seperti kata pepatah don’t judge a book by its cover, hotel ini punya tempat parkir yang cukup di depan lobby-nya, hotelnya juga cukup nyaman dengan kolam renang model inner court yang bisa bikin lo jadi atlit renang (sangking panjangnya kolam renangnya, puas banget deh renang di sini). Kamarnya nyaman walau tidak berkarpet, namun sayang, design kamarnya memisahkan toilet dan shower sehingga agak repot untuk kita yang sudah biasa ambil paket pagi hari (hehehe).”

“Yang orang-orang sebut Seminyak ini sebenarnya jalan Legian bagian utara sampai ke daerah Kerobokan (kalau legian deskripsi gue di atas itu legian bagian selatan). Penuh dengan toko-toko juga, tapi tidak seramai legian dan biasanya tutupnya cepat. Di daerah sini banyak tempat clubbing, dan memang jadi tempat tinggal yang enak buat turis usia 25-45an, dan biasanya jarang anak kecil keliatan di daerah ini. Ada 1 jalan namanya Dyana Pura, ini tempat clubbing semua. Banyak juga tempat makan, KUDETA (lo harus masuk ke sini), LIVING ROOM, HU’US, dll.Kan panjang nih daerah Seminyak, beberapa hotel yang menurut gue bagus : CASA PADMA di Jalan Padma (recommended selain kamar standard, karena toilet kamar standard yang agak-agak sempit ), ALL SEASON, THE COURTYARD. Di sini juga banyak villa-villa apalagi sudah dekat Kerobokan (cuma juga udah mulai sepi daerah kerobokan ini). Mending cari hotel di daerah seminyak bagian selatan , karena tidak terlalu jauh dari legian dan pantai kuta dan gak jauh juga dari tempat-tempat yang cozy. Kalau seminyak bagian utara (menuju Kerobokan)banyaknya villa-villa honeymoon dan di situ rada super duper sepi).”

Untuk memudahkan anda mencari tempat penginapan, beberapa saran saya :

  1. Buka www.mapsbali.com, buka area Legian dan Seminyak, banyak keterangan hotel yang bisa anda dapatkan di sana.
  2. Di daerah Seminyak , diantaranya: The Samaya Bali (www.thesamayabali.com), Pelangi Bali. Di sini juga bisa lihat lokasi KUDETA, HU’U, LIVING ROOM buat makan malam.
  3. Di daerah Legian : Sofitel, Casa Padma, Bali Padma, Courtyard (www.courtyard-bali.com), All Seasons, Puri Bali, The Sari Beach. Di sini juga bisa dilihat lokasi-lokasi restaurant seperti warung made.
  4. Melakukan reservasi melalui asiarooms cukup menguntungkan karena harga kamarnya lebih murah dibandingkan reservasi langsung ke hotelnya (kadangkala hotel juga memberikan special discount bagi pemesan melalui internet).

Untuk transportasi, ada beberapa pilihan. Jika anda berlibur sendiri atau dengan kawan, anda bisa menyewa motor atau mobil. Mungkin bisa dijadikan perbandingan, di tempat saya biasa menyewa kendaraan, harga sewa  mobil Toyota Avanza per 24 jam tanpa supir dan tanpa bensin adalah Rp. 180.000,- (murah ya..hehehe). Anda bisa menghubungi nomor 0361-751230 untuk penyewaan ini. Mungkin karena sudah kenal, saya tidak perlu meninggalkan KTP untuk bisa menyewa mobil dari tempat ini dan karena saya biasanya memilih menyetir sendiri di Bali, saya tinggal menelepon untuk informasikan jadwal kedatangan saya di Bali dan mobil akan siap menunggu saya di airport. Menurut saya, rambu-rambu petunjuk arah di Bali sangat baik dan mudah dipahami, sehingga walaupun anda baru berkunjung di Bali, tidak sulit untuk menemukan lokasi wisata di sana hanya dengan berbekal peta (bisa didapat di airport) dan rambu-rambu petunjuk jalan.

Untuk makanan, memang untuk kawan muslim kadangkala sulit untuk mencari makanan halal. Di daerah Kuta, ada warung HARSI (depan BCA Kuta), Warung Nikmat (daerah banjar Anyar), sepanjang Jl. Raya Tuban (salah satu jalan dari airport menuju Legian) banyak restaurant makan, ada Warung Pecel Bu Tinuk (depan Bank Mandiri Tuban), ada Mie Titi, Plengkung, di malam hari di sekitar Pasar Kuta ada Nasi Pedas, Soto Babat (rasanya mantap nih), dan banyak lagi saya sedikit lupa :) Jika bosan di daerah Kuta, untuk makanan juga bisa bisa dicari di Jalan Teuku Umar, Denpasar. Untuk makanan khas Klungkung- Bali, anda wajib mencoba warung (halal) “Be Pasih” di Jl Pemuda III no. 24, Renon. Di sini ada ikan bakar, sate ikan lilit, sop ikan, plecing kangkung, dll, mantap dan gak nyesel :)  Oya, ada juga rujak khas dari Bali yaitu rujak kuah pindang namanya (saya biasa beli di belakang BCA Kuta, depan XL Center Tuban).

Deskripsi saya di atas mudah-mudahan bisa membantu anda yang baru merencanakan perjalanan ke Bali-the island of gods. Enjoy it every second you can :)

Journey to Siam Square

Hard Rock Time

Hard Rock Time

Bagi sebagian besar wisatawan, pusat perbelanjaan atau mall mungkin merupakan salah satu tujuan berkunjung saat berada di suatu daerah (setidaknya bagi mereka yang berasal dari Indonesia).

 

Hal inipun yang kemudian saya lakukan saat berada di kota Bangkok, Thailand. Daerah Siam akan menjadi pilihan sebagian besar mereka yang mencari pusat perbelanjaan. Beberapa pusat perbelanjaan yang terdapat di daerah tersebut diantaranya : Mah Boon Krong (MBK), Siam Discovery, Siam Center, Siam Square, Siam Paragon. Akses antar satu tempat dengan tempat yang lainnya adalah jembatan penyeberangan yang cukup lebar dan nyaman untuk dilalui.

 

MBK, mungkin merupakan pusat perbelanjaan awal di kota Thailand (semacam Blok M atau Melawai di Jakarta tapi dengan kondisi yang sudah diperbaharui / direnovasi). Dan karena letaknya di sudut jalan daerah Siam dan memiliki facade yang cukup menarik membut MBK tetap ramai dikunjungi.  Banyak pilihan oleh-oleh yang bisa didapat di sini seperti pashmina, berbagai macam kain sarung untuk seprei, taplak meja dan pelengkap aksesoris interior lainnya. Standard sih, mirip-mirip Mal Ambassador dan ITC Kuningan-lah jika ingin dibandingkan dengan yang ada di Jakarta. Namun karena saya sudah pergi ke Chatuchak Weekend Market sebelumnya, maka kunjungan kali inipun tidak membuat saya ”lapar mata” akan barang-barang dalam mall ini.

Berseberangan dengan MBK adalah sebuah daerah yang dikenal sebagai Siam Square. Sebuah ruang terbuka dengan toko-toko yang mengelilinginya, plazza kecil sebagai tempat parkir, giant screen di facade sebuah gedung menayangkan iklan-iklan versi raksasa, para remaja kota Bangkok dengan cara berpakaian mereka yang sangat unik (meniru gaya harajuku di Jepang), mobil-mobil mewah (sepertinya dikhususkan hanya untuk mobil mewah) diparkir di sepanjang jalan satu arah ini membuat jalan ini sangat macet, namun mungkin di situlah letak daya tarik area ini. Saya juga akhirnya menemukan Hard Rock Cafe Bangkok di Siam Squareini, bisa duduk-duduk santai di pinggir jalan (karena memang disediakan beberapa bangku di bahu jalan) sambil menikmati es krim yang tokonya penuh sesak dengan antrian dan menyediakan berbagai rasa dan rupa es krim. Toko es krim ini saya lupa namanya, terletak persis di sudut jalan dan berlokasi di gedung bagian belakang dari Hard Rock Cafe Bangkok. Saya kemudian mengeksplore area belakang dari jalan utama terdapat banyak boutique berukuran kecil dengan design yang cukup unik. Saya menemukan kaos vintage dengan harga 100 Baht, lumayan untuk dijadikan oleh-oleh.Masih di kawasan Siam Square, terdapat sebuah Shopping Complex bernama Siam Paragon-The Pride of Bangkok, World Class Phenomenon (setidaknya kata-kata ini tertera di brosur Siam Paragon). Fasilitas yang tersedia dalam kompleks ini selain pusat perbelanjaan dan food hall adalah Royal Paragon Hall — exhibition & convention center, Siam Opera — Theatre dengan kapasitas sampai 1600 tempat duduk, Krungsri Imax Theatre – kapasitas 500 tempat duduk, Paragon Cineplex – dengan 14 studio dan yang tak kalah hebohnya adalah Siam Ocean World sebagai Oceanarium yang memiliki koleksi lebih dari 400 species binatang laut. Very entertaining.Cukup melelahkan juga jika saya harus memilih mengunjungi semua tempat di atas dalam sekali waktu. Sehingga jika anda berkesempatan mengunjungi area ini, sebaiknya anda memilih tempat-tempat yang memang ingin anda kunjungi agar tidak terlalu capai nyebrang sana nyebrang sini di kompleks Siam Square. Untuk keterangan lebih lanjut seputar Siam Square, silahkan mengakses : http://www.siam-square.com/

Cukup melelahkan juga jika saya harus memilih mengunjungi semua tempat di atas dalam sekali waktu. Sehingga jika anda berkesempatan mengunjungi area ini, sebaiknya anda memilih tempat-tempat yang memang ingin anda kunjungi agar tidak terlalu capai nyebrang sana nyebrang sini di kompleks Siam Square. Untuk keterangan lebih lanjut seputar Siam Square, silahkan mengakses : http://www.siam-square.com/ 

Depan Siam Paragon

Depan Siam Paragon

 
 
 

 

 

 
 
 

 

 

 

 

Journey to Khao San Rd. Bangkok

Sebelum anda memutuskan untuk memasukkan Khaosan Road dalam daftar kunjungan selama berada di Bangkok, pastikan agar sebisa mungkin tidak mengikutsertakan anak kecil. Karena menurut pendapat saya pribadi, kawasan yang biasanya sangat ramai pada malam hari ini adalah tempatnya para orang dewasa menikmati apa yang biasa disebut sebagai “surga dunia”. Kawasan ini pada malam hari hampir mirip dengan daerah Poppies Lane II dan Poppies Lane I di Kuta-Bali, penuh dengan restoran, café, pub terbuka full music yang menghentakkan, belum lagi ramai dengan lampu sign warna-warni untuk menarik minat pengunjung. Ramai … blas!!

Khaosan Road at night

Khaosan Road at night

Saya mengakses daerah Khaosan Road dari Ratchadamnoen Road, dekat Democracy Monument (semacam “Bundaran HI”-nya Bangkok). Sebelum sampai di Democracy Monument dari arah barat, akan ditemukan Siam Oriental Hotel di sebelah kiri, +/- 50 mtr ke arah utara akan ditemukan Khaosan Road. Karena saat bertandang ke Bangkok masih dalam suasana peringatan hari ulang tahun raja Thailand, maka selain foto-foto raja berukuran raksasa yang terpampang hampir di setiap sudut dan taman kota,  seluruh pohon di sepanjang  jalan utama kota Bangkok termasuk Ratchadamnoen Road pada malam hari “menyala, terang benderang” dihiasi jutaan lampu-lampu…very nice indeed.

 

 Khao San berarti “beras” dan sebelum menjadi pusat keramaian turis daerah ini adalah salah satu pasar beras utama di Bangkok. Khaosan Road terletak di kawasan bernama Banglamphu ( distrik Phra Nakhon). Kawasan ini sangat terkenal sebagai surganya para backpacker dari seluruh penjuru dunia mungkin karena informasi apapun bisa didapatkan dari tempat ini termasuk  banyaknya pilihan dan variasi penginapan murah. Di ujung jalan Khaosan akan ditemukan sejumlah penjual T-shirt print dengan harga murah, penjual berbagai macam aksesoris, ada juga bar-bar mini di sepanjang jalan, penjual makanan khas Bangkok (biasanya semacam mie goring dengan porsi kecil dicampur berbagai macam pilihan daging), belum lagi diramaikan dengan musik kencang yang keluar dari restaurant dimana tamu pada umumnya memilih duduk-duduk dan menikmati malam di teras restaurant yang langsung menghadap ke jalan seolah-olah jalan ini bagaikan sebuah catwalk. Di kawasan ini juga ditemukan atraksi-atraksi dari para penjamu restaurant untuk menarik minat para turis untuk mampir ke tempat mereka.

Khaosan Road penuh dengan biro perjalanan dengan berbagai paket, mulai dari trip keliling kota Bangkok, Chiang Mai, Phi-Phi Island, Vietnam, Malaysia, sampai mengunjungi Angkor Wat di Kamboja. Sayang waktu saya tinggal di Bangkok tidak cukup untuk menyisakan 2 hari perjalanan Bangkok-Kamboja-Bangkok untuk melihat Angkor Wat yang terkenal. Di Khaosan juga banyak jasa pembuatan visa kilat (karena satau saya untuk ke Kamboja diperlukan visa kunjungan) sampai pengurusan SIM International…..bukan main.

Saat masih terperangah dengan betapa ramainya kawasan ini, saya dan teman sempat “celingak-celinguk” mencari toilet. Kami menemukan sign “Starbucks” (agak masuk ke dalam gang) dan memilih untuk mengeluarkan uang lebih untuk membeli minuman Starbucks agar bisa “ikut nebeng”ke toilet yang pasti dijamin bersih. Agak gelap juga gang menuju Starbucks ini, tapi yang mengesankan adalah gang ini tertata dengan sangat apiknya dengan lantai teraso kuno, kios-kios mungil di sisi kiri sementara sisi yang lain sudah terdapat meja dan kursi-kursi makan, di sudut gang (sebelum mencapat Starbucks terdapat toko buku mungil yang bersih dan nyaman….wow….sangat menyenangkan sehingga hiruk pikuk dan suara bising dari jalan utama pun tidak sampai ke gang ini, sangat tenang dan rileks.

Starbucks  menempati bangunan kuno 2 lantai dengan lampu temaram dan interior suasana kolonial membuat betah untuk duduk berlama-lama di tempat ini.

Suasana Restaurant

Suasana Restaurant

Setelah berjalan cukup dan melihat berbagai “atraksi” di Khaosan Road, kami pun … lapar J Dengan memakai strategi “ gang starbucks”, kami-pun mengintip satu-per satu gang “yang agak meyakinkan” untuk kami masuki. Di sisi barat Khaosan Road kami menemukan gang yang ujungnya berakhir di sebuah restaurant menjual makanan laut. Kami memilih restaurant putih sebelum ujung gang karena tempatnya yang cukup cozy dan karena banyak yang mampir makan, saya berkesimpulan makanannya enak. Dan ternyata benar. Sajiannya bermacam-macam western food dan Thailand food. Saya sarankan untuk mencoba makanan khas Thailand yang ada (maaf saya lupa apa saja menu yang sudah saya coba, soal rasa dijamin enak blas J ).

 

 

 

Lelah berjalan, melihat, mengagumi, terheran-heran, terperangah, kelaparan dan kehausan, kami pun kembali ke hotel dari sisi timur Khaosan Road. Karena dekat hotel, maka kami memilih untuk mencoba pulang dengan Tuk-Tuk. Ternyata naik Tuk-Tuk harus pintar-pintar nawar juga dan tawarlah serendah mungkin walaupun kita tidak tahu seberapa jauh/dekat jarak antara tempat tujuan dengan Khaosan Road ini. Jika setelah beberapa Tuk-Tuk mematok harga yang relative sama, maka tawarlah sedikit dari harga tersebut agar tidak rugi-rugi amat.

Prolog : Perjalanan ini sudah saya lakoni beberapa waktu yang lalu namun baru saat ini saya bisa menceritakannya. Mudah-mudahan tidak ada yang terlewatkan dari perjalanan seru ini.

Here’s my story :

Banyak hal yang bisa dibayangkan ketika seorang sahabat mengajak saya untuk melakukan perjalanan akhir tahun ke Bangkok. Mulai dari peristiwa kudeta terhadap PM Thaksin yang membuat saya sempat untuk mengurungkan niat melancong ke sana karena khawatir akan dampak huru-hara, ketakutan terhadap orang-orang  jahil  yang dengan sengaja memasukkan “barang-barang haram” ke dalam tas (seperti pada film Bridget Jones’ diary 2), sampai pada bayangan pantai di film “ The Beach “ yang membuat saya tergila-gila pada “pantai-pantai ber gradasi hijau biru” (padahal waktu tinggal di Bali dulu, saya paling anti pergi ke pantai).

Syukurlah semua pikiran-pikiran jelek saya sirna ketika seorang sahabat yang baru saja menikah dengan orang Thai dan tinggal di Bangkok mengatakan bahwa Bangkok tidaklah seperti bayangan saya dan aman untuk pergi kesana.

Saya kemudian browsing internet untuk tempat-tempat menarik di Thailand dan sekitarnya. Kota Bangkok akan menarik bagi pelancong yang senang dengan genre budaya dengan banyaknya situs-situs temple di dalam kota Bangkok sendiri.  Daerah Thailand bagian Utara juga tidak banyak yang bisa dieksplorasi kecuali pasar terapung terbesar, wisata gajah juga ladang-ladang pertanian yang cukup besar.  Ada cerita menarik dari seorang kerabat yang dalam satu kesempatan berdinas studi banding tentang AIDS ke Negara Thailand. Ladang-ladang pertanian di daerah Thailand Utara ini banyak dikelola oleh para penderita AIDS, dengan tujuan agar mereka merasa tidak dikucilkan oleh masyarakat dan masih bisa produktif dengan segala kondisi mereka.  Tidak itu saja. Banyak temple dan biara para bikshu  kota Bangkok yang juga dijadikan tempat tinggal oleh para penderita AIDS. Hal ini yang membuat Thailand menjadi rujukan negara-negara di Asia dalam memfasilitasi para penderita AIDS.

Cukup dengan daerah daratan. Thailand Selatan adalah surganya pantai indah dan very beautiful scenery. Mereka punya phi-phi island yang terkenal itu (phi artinya pulau), mereka punya Phuket yang  menjadi tujuan wisata bagi para pelancong Eropa. Dari beberapa informasi, kota Phuket sudahlah sangat ramai dan padat populasinya oleh pelancong tentunya, sehingga kami mengurungkan niat untuk pergi kesana. Kota Krabi kemudian menjadi tujuan kami, karena menurut beberapa situs blog yang ada, kota ini lebih direkomendasikan dibandingkan dengan Phuket yang sudah cukup padat. Jadilah Bangkok dan Krabi sebagai tujuan kami.

Niat awalnya sih kami akan melakukan perjalanan murah dengan memanfaatkan point reward GFF dari Garuda Indonesia, sehingga perjalanan Jakarta Bangkok pp bisa “gratis”. Kecewa no.1 adalah ketika perjalanan kembali ke Jakarta di awal Januari 2008 sudah full booked (padahal reservasi  kami lakukan pada bulan September 2007, 3 bulan sebelumnya), sementara cuti kantor tidak bisa di booked lama-lama. Jadilah untuk perjalanan kembali ke Jakarta kami mencari penerbangan berbiaya murah (Low Cost Carriage).

Akhirnya kami akan terbang ke Bangkok dengan Garuda. Bangkok-Krabi-Bangkok dengan Thai Air Asia. Bangkok-Singapura dengan JetStar Air (yup..we can not miss going to Singapore even for only 1 day). Dan Singapura-Jakarta dengan ValuAir. Wahhh…low carriage semua nih kecuali Garuda, berarti saya harus siap-siap deg-degan dan gak bisa tidur sepanjang perjalanan (mungkin saya memang punya ketakutan untuk terbang dengan maskapai penerbangan murah. Bukan pada masalah jumlah uang yang harus dibayarkan, namun di bayangan saya, standard keselamatan yang diterapkan berbeda dengan penerbangan lain. Konotasi saya, penerbangan murah = perjalanan tidak nyaman). Pelajaran no. 1, penerbangan murah tidak berarti perjalanan akan tidak nyaman. Baca terus cerita saya di bawah

Ketika waktunya mengambil tiket di counter Garuda (Jl. Sudirman Jakarta), kecewa dan pelajaran nomor 2, bagi anda yang berniat menggunakan tier miles Garuda, bukan berarti gratis lho. Ternyata, kita masih akan dikenakan biaya administrasi yang cukup besar yaitu USD 100. Sementara untuk tiket dengan maskapai murah, semua biaya (termasuk airport tax, yang kalo di penerbangan domestic di Indonesia dikenakan biaya Rp. 30.000,- dari Cengkareng) sudah masuk dalam hitungan tariff tiket.

Kami mulai melakukan perjalanan tanggal 28 Oktober 2007 dengan menumpang GA 866, pukul 22.00 WIB. Airport tax Rp. 100.000,- dan fiscal Rp. 1.000.000,- membuat perjalanan ini sudah bukan perjalanan murah lagi. Dan harapan saya bahwa penerbangan ke Bangkok akan cukup nyaman dengan pesawat Airbus ternyata tidak terkabulkan karena pesawat Garuda ke Bangkok menggunakan pesawat Boeing 737-400 dengan 6 seats per row. Tapi sudahlah, yang penting adalah saya akan menghabiskan waktu akhir tahun di pantai Krabi !! dan rasa penasaran saya akan bandara baru di Bangkok, yang katanya paling besar di Asia Tenggara, akan segera terobati.

Bangkok sudah menunjukkan pukul 01.30 ketika saya tiba di Suvarnabhumi Airport. Terpesona juga melihat bentuk massa bangunan utama Suvarnabhumi Airport dengan permainan lampu warna birunya. Keren. Petunjuk dan pengarah bagi para pengguna fasilitas airport ini cukup jelas, sehingga bagi saya yang baru pertama kali berkunjung ke airport ini, tidak mengalami kesulitan arah. Dan sama halnya dengan  waktu kedatangan international di airport negara-negara lain dimana rata-rata waktu kedatangan adalah pagi hari, counter imigrasi airport pagi itu sangat penuh oleh pelancong sehingga rasanya seperti mengantri masuk ke pertunjukan konser.

Suvarnabhumi Airport is a very spacious airport, sirkulasi kedatangan dan keberangkatan penumpang di beberapa area menyatu, namun dengan pengarah yang cukup memadai, saya akhirnya bisa menemukan jasa layanan airport taxi di luar. Counter taxi mudah didapat, karena calo-calo taxi tidak seramai di Cengkareng.  Anda juga akan menemukan stand dengan free brochure tentang kota Bangkok saat mengantri taxi.  Ada baiknya anda sudah mencatat alamat tujuan anda di secarik kertas agar petugas counter taxi bisa membacanya, karena aksen dan lafal bahasa inggris kita sangat susah dimengerti oleh penduduk Thailand kebanyakan. Ongkos taxi dibayar saat sudah tiba di tempat tujuan dan tidak perlu khawatir bila akan memasuki gerbang tol kita dimintai ongkos tol (seperti para sopir taxi di Jakarta yang gak mau rugi) karena akan dibayarkan dahulu oleh para sopir taxi ini. Cukup membuat kita merasa aman.

Mencari hotel di situs-situs internet Bangkok tidaklah susah. Jika anda berjiwa backpacker, daerah Khao San Road bisa menjadi pilihan. Namun, apabila anda bukan tipe pelancong yang tidak terlalu menyukai hiruk-pikuk layaknya daerah Poppies lane I dan Poppies Lane II di Kuta Bali, area sekitar pusat kota mungkin bisa menjadi pilihan. Saya memilih hotel yang dekat dengan Khao San Road dan pusat kota.

De Moc Hotel namanya. Beralamat di 78 Prajatipatai Road, Pra-Nakorn, Bangkok. Harga yang kami dapatkan untuk 2 orang, jika dikurskan dalam rupiah adalah Rp. 560.950 per malam per orang. Dari beberapa pilihan hotel yang ada, hotel inilah yang paling dikenali oleh sebagian kawan yang pernah melancong atau tinggal di Bangkok. Dan karena kali ini adalah kali pertama saya ke Bangkok, maka saya percaya saja dengan pendapat teman yang sudah pernah ke Bangkok sebelumnya. Seperti yang saya sebutkan di atas, jangan lupa untuk mencatat nama hotel dan alamat tujuan, jika perlu bila di situs internet alamat tujuan ada yang tertulis dalam tulisan Thailand, lebih baik diprint karena ada beberapa sopir taksi yang bahkan tulisan Latin pun tidak bisa dibaca dengan baik J. Hotel ini cukup nyaman dengan harga yang terjangkau dan berada tidak jauh dari pusat kota, sayang liftnya sanagat kecil untuk memuat dua orang wanita dengan koper yang besar-besar. Tidur hanya sekitar 4 jam karena tiba di hotel sudah menjelang pagi, membuat saya merasa enggan untuk beranjak. But I’m in Bangkok now and cannot miss a minute looking around Bangkok city.

Tujuan pertama kami adalah Chao Phraya River. Berdasarkan data yang saya peroleh, dalam beberapa peta kuno di Eropa sungai ini disebut sebagai Menam atau Mae Nam kata dalam bahasa Thailand untuk sungai ( Me atau Mae adalah “Ibu”, Nam adalah “Air” ). Nama Chao Phraya adalah bahasa Thailand dari Jendral atau Tuan. Sungai ini kemudian juga dikenal dengan nama River of Kings.

Karena kami memang tidak memiliki rencana dari awal akan berkeliling dimana saat berada di kota Bangkok, maka kami pun diarahkan oleh bellboy hotel untuk menuju ke National Art Gallery yang memang berada di tepian Chao Phraya River menggunakan Tuk-Tuk. Tuk-Tuk ini mirip dengan bajaj di Jakarta, hanya lebih terasa “lega” dan terbuka di sisi-sisinya. Harus pintar-pintar juga menawar harga untuk sekali perjalanan menggunakan Tuk-Tuk ini. Sampailah kami di dekat National Art Gallery yang pagi itu masih sepi dan tidak nampak keramaian turis untuk sebuah dermaga sungai yang terkenal di kota Bangkok. Petugas loket-pun tidak nampak di dalam ruang loket (membuat saya kemudian berpikir, “apakah jam 09.00am belum cukup siang untuk menyambut para wisatwan di kota ini?”). Akhirnya kami ditawarkan oleh calo di dermaga untuk menggunakan private long tail boat dengan harga 400 Baht untuk berkeliling sungai ini. Setelah perjalanan ke Bangkok kali ini, saya kemudian tau bahwa dermaga di National Art Gallery ini bukanlah dermaga umum untuk kapal pengangkut umum yang beroperasi setiap hari, namun lebih pada dermaga untuk kelompok-kelompok tour. Tidak mengherankan jika harga satu trip long tail boat cukup mahal dikenakan pada kami (untuk mengetahui jadwal dan dermaga yang beroperasi sepanjang sungai Chao Phraya silahkan ke alamat : http://bangkok.sawadee.com/canals.htm). Berkeliling Chao Phraya River rasanya seperti mengarungi sungai Musi, Palembang yang ketika melitas di atas jembatan Ampera, saya melihat ramainya kapal-kapal lalu-lalang di sungai ini, mulai dari perahu-perahu nelayan kecil sampai kapal yang cukup nyaman untuk para wisatawan. Ramai dan menyenangkan rasanya, sampai-sampai rasa capai-pun hilang.

 Rumah-rumah di sepanjang sungai ini memiliki teras dan semacam dermaga kecil yang berhubungan langsung dengan sungai. Teras sebagian besar berupa panggung kayu yang dihiasi tanaman hias seolah-olah teras ini adalah penerima tamu yang datang menggunakan kapal atau perahu dari sungai. Unik, menurut saya. Kontras dengan sebagian besar daerah pemukiman di tepi sungai di Indonesia dimana bagian rumah yang berhadapan langsung dengan sungai cenderung menjadi area service dan akses menuju sungai kemudian ditutup oleh dinding-dinding ruang yang sebagian besar adalah dapur dan toilet.

Pemberhentian pertama adalah Royal Barges Museum. Di tempat inilah tersimpan kapan-kapal mewah milik kerajaan Thailand berikut dengan sejarah yang menyertainya. Hiasan badan kapal sangat detil didominasi oleh warna emas dan pecahan-pecahan kaca warna-warni. Kami pun mampir di parkiran dermaga museum ini untuk foto-foto, namun untuk dapat mengambil foto dari kapal para raja-raja Thailand ini, dikenakan biaya. Akhirnya kami hanya berkeliling saja di dalam museum ini.

Tidak banyak yang kemudian bisa dilihat di jalur Khlong Bangkok Noi ini, beberapa patung Budha yang cukup besar, mungkin merupakan bagian dari vihara di salah satu sudut kota Bangkok. Kemudian ada satu dermaga yang lebih terlihat tidak terawat dibanding sebuah persinggahan turis dan ternyata adalah tempat hidup beberapa ekor biawak besar. Di ujung jalur Khlong Bangkok Noi kami seperti berhenti di tambak ikan tanpa pemilik, karena begitu sebuah roti dilempar ke dalam sungai, muncul ikan berpuluh-puluh ekor ikan layaknya ikan lele dengan ukuran sebesar lengan tangan orang dewasa. Saya pun menikmati hal ini tapi tidak berani dekat-dekat ke mulut ikan, khawatir ikan ini akan menggigit jari-jari saya. Dari tempat ini, long tail boat kami kemudian memutar mengambil jalur kami sebelumnya, dan sesekali berhenti karena beberapa kapal dengan pasar terapungnya menghampiri kami. Tapi kapal pasar terapung ini tidak sebanyak di pusat pasar terapung Thailand.

Kembali ke dalam jalur utama Chao Phraya River, ternyata semakin siang jalur sungai ini semakin ramai. Sampai-sampai saya sempat khawatir apakah dengan perahu dan kapal yang hampir seluruhnya memacu kecepatan mesinnya dengan kecepatan tinggi tidak akan saling bertabrakan. Setiap dilewati oleh perahu / kapal dengan kecepatan tinggi, kapal yang kami tumpangi pun bergerak oleng ke kiri dan ke kanan tapi justru disinilah letak keasyikannya sambil menikmati percikan-percikan air sungai. Di jalur utama ini, cukup banyak tempat persembahyangan (Wat, dalam bahasa Thailand) yang bisa dinikmati. Dan karena kami meminta untuk berhenti di dermaga yang paling dekat dengan The Grand Palace, kami pun berhenti dan mengakhiri perjalanan di Tha Chang Pier ( Dermaga no. 9 ).  Memasuki dermaga ini pun kami dikenakan biaya (saya lupa biayanya berapa, mungkin seperti  biaya retribusi)  karena kami tidak menggunakan kapal-kapal umum yang memang menjadi alat transportasi di sungai. Dermaga ini berupa panggung kayu yang menjorok ke arah sungai, di dalamnya tidak hanya disediakan  tempat duduk untuk calon penumpang tapi dermaga ini lebih mirip food court di pasar tradisional (silahkan bayangkan sendiri bagaimana rupanya).

Na Phra Lan Road persis berada di depan dermaga ini yang akan menuntun kita menuju The Grand Palace. Sepanjang jalan dipenuhi oleh pedagang makanan dan sebagian besar mengandung daging babi. Tergiur juga untuk mencobanya, namun hari masih pagi dan lapar rasanya belum menghampiri saya. Berbagai jenis dan rupa makanan, minuman dan potongan-potongan buah segar yang dibuat menarik membuat para pejalan kaki yang sebagian besar adalah turis menghampiri tenda-tenda ini. Jadilah seperti melewati sebuah pasar tradisional.

Kemegahan The Grand Palace sudah terlihat ketika  di kami sampai di sudut jalan. Benteng dan pagar tembok yang tinggi, pedestrian yang luas di luar tembok dengan tanaman-tanaman perdu tertata rapih cukup nyaman untuk dilewati para wisatawan. Namun saat itu Bangkok sangat sangat panas. Pelajaran nomor 2, jangan lupa membawa topi atau payung kecil jika akan mengunjungi The Grand Palace. Untunglah saya memakai rok di atas lutut sehingga kegerahan tidak terlalu hebat bagi saya. Pelajaran nomor 3, jangan pernah menggunakan bawahan di atas lulut jika ingin masuk ke The Grand Palace. Kami hari itu gagal masuk ke dalamnya karena ditegur petugas keamanan dan karena merasa “ribet” jika harus double pakai sarung yang disediakan (bayar pula untuk pinjam sarung saja), kami terpaksa keluar dengan tampang gagal dan culun.

So ? Where to go next? Thanks God it’s Saturday!!  Pelajaran nomor 4, pastikan anda sempat berada di Bangkok pada hari Sabtu, karena ada yang kurang jika belum mengunjungi The Chatuchak Weekend Market. Chatuchak letaknya cukup jauh dari pusat kota dan menurut informasi dari peta yang saya dapat gratis di bandara, ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan untuk mencapainya. Tapi karena biaya taxi di Bangkok tidak mahal, kami pun menggunakan taxi untuk mencapai pasar rakyat yang terkenal ini. Karena menuju pintu gerbang utama siang itu sudah cukup padat, maka kami pun berhenti dan masuk pasar dari pintu yang lain.

Kita bisa mendapatkan apa saja di pasar ini. Semuanya, sebutkan saja ( you named it ) ada di sini. Karena pasar ini hanya dibuka seminggu sekali, bisa dibayangkan bagaimana ramainya dan penuhnya pengunjung pasar. Chatucak Market dibagi berdasarkan zona barang yang dijual. Jadi jika anda terdampar di bagian majalah bekas, sepanjang jalan anda hanya akan menemukan kios-kios majalah dan buku bekas. Barang-barang yang dijual pun ternyata sebagian ada yang sudah terpajang indah dengan harga yang cukup mahal di ITC Ambassador dan Plaza Semanggi (karena saya pernah membeli barang di kedua tempat ini yang ternyata juga dijual di Chatuchak).

Tipsnya adalah : (1) setiap anda tersesat di dalam gang yang berisi serentetan kios, pastikan anda mengetahui jalan keluar melalui jalur utama, dengan demikian anda tidak hanya berputar-putar melihat barang-barang tertentu dan itu-itu saja. (2) gunakan alas kaki dan pakaian yang cukup nyaman namun sebaiknya jangan pakaian lengan panjang karena akan sangat gerah terutama jika kota Bangkok sedang panas-panasnya. Jika khawatir kulit akan terbakar, gunakan sun block lotion yang cukup. (3) bawalah botol air mineral saat anda siap untuk masuk ke dalam gang-gang kios penjualan, karena jika tidak di area zona penjualan makanan dan minuman, anda akan kesulitan untuk menemukan sebotol air mineral. (4) ada beberapa barang yang hanya dijual di satu kios saja, sehingga anda (khususnya para wanita) perlu berpikir dua kali untuk tidak mencari kios lain dengan harapan harga bisa lebih murah.

Tempat ini menjadi surga  bagi para pelancong dari segala usia, jenis kelamin, profesi, dan tingkat sosial. Harga barang pun bisa sangat bervariasi. Sama halnya dengan pasar Tanah Abang, Pasar Baru, dan ITC, harga di Chatuchak-pun wajib untuk ditawar. Setelah berkeliling dan sempat mencoba makan siang di pasar ini dengan menu ayam pedas, oleh-oleh untuk kerabat pun sudah saya dapatkan sehingga saya tidak perlu repot untuk daftar pesanan keluarga.

Mencari taxi untuk kembali ke hotel sangatlah susah dan mengherankan. Saya tidak habis pikir, kenapa taxi-taxi yang kosong tidak mau mengangkat penumpang yang cukup banyak dan menawarkan diri untuk menumpangi taxi mereka. Beberapa kali kami memberhentikan taxi, berkali-kali itu juga kami harus kecewa. Apakah karena para sopir ini menghindari macet ? tapi toh akan kami bayar. Saya kemudian menyadari bahwa mungkin kartu alamat hotel yang menggunakan huruf Latin tidak bisa dimengerti betul oleh para sopir ini, sehingga mereka memilih untuk menolak mengangkut kami. Akhirnya kami mendapatkan sopir taxi yang bersedia mengangkut kami, tapi beliau sempat menelepon temannya lho, kelihatannya untuk menanyakan alamat hotel kami.

Lelah dengan Chatuchak Market, kami pun beristirahat sejenak di hotel untuk siap-siap  melancongi the famous Khaosan Road pada malam hari nanti.

# to be continued … #

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.